Side Story: Tanah pun Bergetar
TIBA-tiba Wartini berteriak, "Kereta... kereta...." Semua pembeli lontong di warung wanita bertubuh gemuk itu menoleh ke belakang, ke arah rel 30-an meter di depan. Dua kereta api masing-masing sarat penumpang melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Dan, "glegarrr," tanah di sekitar warung pun bergetar. Wartini menjerit, "Astagfirullah...," lalu ia jatuh pingsan. Orang-orang pun berdatangan, terkesima, kaget, tak percaya, ngeri.
Di Desa Pondok Betung, 4 km dari stasiun Kebayoran Lama, kawasan pinggir barat Jakarta Selatan, musibah itu terjadi. Senin pagi, pukul 07.05, 19 Oktober (1987 saat itu), seketika daerah itu menjadi ramai oleh mereka yang dengan sukarela mencari alat apa saja untuk menolong korban bencana kereta api terbesar sepanjang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dan pemandangan di sekitar titik tubrukan sungguh mirip mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan.
Di titik itu KA 225 dari Rangkasbitung, Jawa Barat (saat itu), dengan sekitar 700 penumpang adu kepala dengan KA 220 tujuan akhir Merak yang membawa 500-an penumpang yang datang dari stasiun Tanah Abang, Jakarta. Jumlah penumpang itu diperoleh dari sumber PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Artinya, belum terhitung penumpang gelap yang biasa berjejal, menempel di pinggiran lokomotif atau bertengger di atap kereta-kereta bercat krem-hijau itu.
Sampai Senin tengah hari sudah lebih dari 100 korban yang meninggal dunia, 300-an orang luka berat dan ringan. Jumlah ini pasti bertambah, karena di dalam gerbong yang ringsek masih ada puluhan korban meninggal tapi belum bisa dikeluarkan.
Tertindih besi-besi yang tak keruan lagi malang-melintangnya, seorang ayah dan anak laki-lakinya berumur 10-an tahun tampak masih bernapas. "Saya belum akan pulang sampai dua orang itu jelas nasibnya," kata Kapolda Poedy Syamsudin, yang langsung berada di tempat musibah. Tujuh rumah sakit terdekat -- RS Fatmawati, RS Setia Mitra, RS TNI-AL Mintoharjo, RS Pertamina, RS Pondok Indah, RS Jakarta, dan RS Cipto Mangunkusumo -- menjadi tempat penampungan. Hari itu juga Presiden Soeharto mengunjungi para korban di RS Cipto Mangunkusumo. Darah berceceran, di beberapa tempat menggenang, potongan tubuh manusia berserakan. Di sebuah kereta ditemukan potongan kaki dan tangan berselemak darah, entah tubuhnya berada di mana. Bau amis menyengat hidung. Raungan, jeritan, dan tangis korban yang masih dikaruniai hidup mengiris hati.
Di sebuah atap kereta, seorang lelaki setengah baya terjepit dan putus asa. "Pooo...tong saja kaki saya," pintanya dengan sengsara kepada sejumlah petugas yang mencoba menolongnya. Tak berapa lama si malang mengembuskan napas terakhirnya.
Tiga anak berumur sekitar lima tahun diketahui bernama Juned, Aswadi, dan Makmur, yang juga terjepit tak menjerit. "Minta air, Om," kata salah seorang di antaranya kepada seorang polisi. Ketiganya baru bisa dikeluarkan pukul 20.00, lebih dari 12 jam kemudian.
Ketika matahari senin itu mulai menyengat, korban yang masih hidup, tubuh-tubuh yang menyembul di antara jendela, dinding dan pintu kereta dipayungi dengan kertas koran. Siang itu sebuah lokomotif seri BB 304 didatangkan dari Rangkasbitung untuk menyeret dan memisahkan kereta yang saling menjepit, namun rencana dibatalkan karena khawatir puluhan korban yang tergencet di dalam kereta akan tambah remuk. "Selama masih ada yang hidup, gerbong itu tidak boleh digerakkan sampai kapanpun," kata Menteri Perhubungan, Rusmin Nurjadin, di lokasi kecelakaan.
Begitu dahsyatnya tabrakan itu hingga masing-masing kereta terdepan meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman, seakan ular menelan tikus. Di kedua kereta inilah banyak korban tergencet, lokomotif yang melesak masuk ke dalam kereta sarat manusia itu membuat penumpang bak daging yang ditekan dan dicincang dalam suatu wadah, diperparah dengan keadaan kipas blower mesin di kedua lokomotif yang menghadap ke arah kereta pun turut membantu mencincang korban yang tidak beruntung melesak ke dalamnya. Gergaji besi mesin dan mesin pengelas didatangkan guna mengupas dinding kereta.
Sementara itu, kursi-kursi kereta yang berserakan dijadikan tandu darurat untuk mengangkuti korban ke balai desa 200-an meter dari tempat itu. Mayat-mayat dijejerkan alakadarnya, menunggu puluhan ambulans yang sibuk mondar-mandir mengantar jemput para korban. Sejumlah mobil pribadi secara swadaya ikut membantu. Helikopter polisi meraung-raung mengawasi keadaan dan siap mengangkut korban yang kritis. Beberapa sekolah SMP dan SMA di dekat tempat kejadian diliburkan, siswanya dikerahkan membantu.
Sumber:
http://forum.lytogame.com/archive/index.php/t-28312.html?s=87174cc82f77316948b13415a14762f3
(Dengan beberapa perubahan)
Peristiwa Luarbiasa Hebat (PLH) Bintaro 1987 versi PJKA (saat itu belum menjadi PT.KAI)
Urutan Perka (Perjalanan KA) sewaktu kejadian :
06.25 KA 220 dari Tanahabang datang Kebayoran, tunggu masuk KA 251
06.35 KA 251 berangkat Sudimara
06.45 KA 251 datang Kebayoran, bersilang dengan KA 220
06.50 KA 220 berangkat Kebayoran
06.52 KA 225 dari Rangkasbitung berangkat Sudimara (tanpa perintah)
07.05 KA 220 dan 225 bertabrakan
Daftar Singkatan :
KBY : Kebayoran
KP : Kondektur Pemimpin (merangkap pemeriksa karcis di dalam kereta)
PLKA : Pelayan KA
PPKA : Pengatur Perjalanan KA (train dispatcher)
PTP : Pemindahan Tempat Persilangan (berupa surat)
SDM : Sudimara
Kronologis kejadian :
1.
KA 225 menurut jadwal seharusnya masuk di stasiun Sudimara jam 06.40 dan menunggu bersilang dengan KA 220 yang masuk di stasiun Sudimara jam 06.49.
2.
KA 225 mengalami keterlambatan 5 menit. Pada saat itu, di stasiun Sudimara sudah ada KA 1035 (KA Barang) yang berada di jalur II, maka KA 225 oleh PPKA Sudimara dimasukkan ke jalur III dikarenakan jalur I kondisinya kurang baik dan hanya digunakan untuk langsiran dan menyimpan sarana. Jadi, emplasemen Sudimara dianggap sudah penuh dan tidak dapat menerima persilangan KA. KA 1035 sendiri tidak dapat diberangkatkan karena menunggu disusul KA 225 dan disilang KA 220.
3.
Dikarenakan stasiun Sudimara tidak dapat menerima persilangan, maka harus dipindahkan ke stasiun Kebayoran. Untuk memindahkan persilangan tersebut, sesuai peraturan, PPKA Sudimara harus meminta ijin terlebih dahulu kepada stasiun Kebayoran. Bila ijin diberikan, PPKA Sudimara membuat bentuk Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) dan memberikannya kepada masinis dan kondektur KA 225.
4.
Namun kenyataannya PPKA Sudimara telah membuat bentuk PTP dan diserahkan kepada masinis dan kondektur KA 225 tanpa persetujuan PPKA Kebayoran. Penyerahan bentuk PTP tersebut juga menyalahi aturan karena diwakilkan kepada PLKA KA 225. Seharusnya PPKA sendiri yang wajib menyerahkan kepada masinis dan kondektur. Setelah PTP diberikan, PPKA Sudimara menghubungi PPKA Kebayoran untuk meminta ijin memindahkan persilangan. PPKA Kebayoran menjawab: “Gampang, nanti diatur”.
5.
Setelah komunikasi antara PPKA Sudimara dan PPKA Kebayoran, di stasiun Kebayoran terjadi pergantian petugas PPKA dari dinas malam ke dinas pagi. Pada saat serah terima dinasan, PPKA dinas malam memberitahu kepada penggantinya bahwa KA yang belum masuk dari arah Sudimara adalah KA 251, 225, dan 1035. Saat itu KA 251 sudah dalam perjalanan menuju Kebayoran dan bersilang dengan KA 220 yang sudah menunggu di Kebayoran.
6.
Setelah KA 251 masuk Kebayoran, PPKA Kebayoran meminta “aman” ke PPKA Sudimara untuk memberangkatkan KA 220. PPKA Sudimara menjawab: “Tunggu aman saya, saya lagi sibuk”. Semestinya PPKA Sudimara menjawab “Tidak, tunggu” untuk tidak memberikan ijin “aman” kepada stasiun Kebayoran dan mengabarkan bahwa Sudimara masih ada KA yang harus berangkat ke Kebayoran. Kemudian komunikasi kedua PPKA ditutup.
7.
Ternyata PPKA Kebayoran tetap memberangkatkan KA 220 walaupun stasiun Sudimara belum memberikan “aman”. PPKA Kebayoran berasumsi bahwa KA 225 belum masuk Sudimara dan dari kebiasaan bahwa persilangan resmi tetap di Sudimara. Setelah KA 220 berangkat, PPKA Kebayoran mengabarkan kepada PPKA Sudimara bahwa KA 220 telah berangkat dari Kebayoran. Sesuai aturan, KA hanya boleh diberangkatkan setelah stasiun yang dituju KA telah memberikan “aman”.
8.
Mendapat pemberitahuan bahwa KA 220 telah berangkat, PPKA Sudimara menjadi bingung karena PTP terlanjur telah diberikan kepada masinis dan kondektur KA 225. PPKA Sudimara kemudian memutuskan untuk memindahkan KA 225 dari jalur III ke jalur I dengan cara melangsir rangkaian sampai ujung wesel kemudian mundur ke jalur I.
9.
Untuk melaksanakan langsiran tersebut, PPKA Sudimara memerintahkan seorang petugas stasiun. Berdasarkan prosedur yang seharusnya, PPKA harus mengisi pada bentuk T.83 atau Laporan Harian Masinis perihal langsiran di stasiun Sudimara dan menjelaskan rencana langsiran secara lisan kepada masinis.
10.
Setelah petugas yang diperintahkan untuk langsir tersebut mengambil bendera merah dan selompret untuk melangsir KA 225, saat ybs berjalan kira-kira 7 meter ke arah KA ternyata KA 225 bergerak sendiri tanpa perintah. Ybs belum membunyikan selompret (semacam peluit mulut) saat KA 225 mulai bergerak. Ybs menjadi panik dan berlari berusaha menghentikan KA 225 dengan meniup selompret, namun usahanya sia-sia karena KA 225 terus melaju menuju Kebayoran. KP yang berada diluar kereta berlari memasuki kereta dan tidak berusaha menghentikan kereta.
11.
Petugas langsir tersebut kemudian melapor kepada PPKA bahwa KA 225 berangkat tanpa ijin. PPKA Sudimara berusaha menghentikan KA 225 dengan mengayun-ayunkan sinyal masuk dari arah Kebayoran. Dan lagi, usaha ini tidak berhasil dilakukan untuk menghentikan KA 225.
12.
Selanjutnya, PPKA Sudimara berusaha mengejar KA dengan melambai-lambaikan bendera merah, namun usahanya tetap tidak berhasil dan dia kembali ke stasiun dan langsung pingsan.
13.
Tabrakan antara KA 220 dan 225 tak terhindarkan. Data menunjukkan pada saat tabrakan terjadi KA 220 melaju dengan kecepatan 25 km/jam dan KA 225 berkecepatan 36 km/jam. Di lintas tersebut kecepatan maksimum yang diperbolehkan maksimal 60 km/jam.
KA 225 kemungkinan besar berangkat dengan berprinsip pada PTP. Kondisi kabin yang dipenuhi penumpang liar membuat masinis tidak bisa memastikan kondisi diluar kabin. Wesel sudah diarahkan ke jalur 3, untuk langsiran. Kemungkinan wesel yang mengarah ke jalur 3 tersebut diinterpretasikan sebagai tanda aman berangkat oleh masinis KA 225. Untuk memastikan, masinis KA 225 memajukan kereta. Kemudian terdengar suara (dalam hal ini selompret langsir) dan KP yang berlari menuju kereta membuat masinis KA 225 yakin KA-nya aman untuk berangkat.
Evakuasi berlangsung selama beberapa hari dengan mendatangkan crane "Si Bongkok" dari Balai Yasa Manggarai, dibantu ABRI, Polisi, dan Relawan. Dua unit kereta, KB3-65601 dan K3-65626, dirucat di tempat karena rusak parah. Korban paling banyak ada di KA 225 yang dalam kondisi padat penumpang. Kereta bernomor KB3-65601 sendiri hancur dengan body menyelubungi lokomotif BB 303 16. Lokomotif BB 303 16 dan BB 306 16 sendiri dirucat karena rusak parah. Rangka bawahnya melengkung. Satu lok dirucat di Balai Yasa Manggarai, sementara satu lok lainnya dibawa ke Balai Yasa Yogyakarta dengan dinaikkan ke gerbong datar setelah dipisahkan dari bogienya.
(Diambil dari dokumen PJKA, ditulis ulang oleh sdr. Bima Budi Satria, dan tambahan dari sdr. Faishal Ammar).
Images :







Posting Komentar